Program Irigasi Perpompaan Tahun 2024 Dipertanyakan, Petani Kampung Cikawung Seberang Keluhkan Sawah Belum Teraliri Air

0
IMG-20260811-WA0020

Global Rise TV (PANDEGLANG, BANTEN)— Sejumlah warga masyarakat Kampung Cikawung Seberang, khususnya para petani di area persawahan Babalan, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, mengeluhkan belum berfungsinya program irigasi perpompaan yang disebut telah tersedia sejak tahun anggaran 2024.

Program tersebut diketahui berupa kegiatan irigasi perpompaan sebanyak satu unit, dengan sumber dana APBN Tahun Anggaran 2024, dan diperuntukkan bagi Kelompok Tani Tanjung Jaya di Desa Ujung Jaya. (11/8/2026)


Menurut sejumlah petani, keberadaan program tersebut sangat diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air untuk persawahan. Namun, hingga tahun 2026, warga mengaku belum merasakan adanya aliran air dari fasilitas perpompaan tersebut ke area persawahan mereka.
“Kami sebagai warga petani ingin merasakan adanya air yang mengalir ke persawahan kami. Padahal alat tersebut ada program dari pemerintah sejak tahun 2024. Sekarang sudah tahun 2026, tetapi sampai sekarang belum ada air yang mengalir ke area persawahan. Ada apa sebenarnya?” ujar salah seorang warga saat ditemui awak media.

Keluhan tersebut menjadi perhatian karena program irigasi perpompaan pada dasarnya diharapkan dapat mendukung kebutuhan air pertanian dan membantu petani dalam mengelola lahan persawahan.
Sementara itu, saat dikonfirmasi awak media pada 10 Agustus 2026, salah seorang pengurus kelompok tani berinisial U memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut.
Menurut U, bukan berarti fasilitas tersebut tidak dijalankan. Ia menyebut peralatan perpompaan masih lengkap, namun terdapat kendala dalam pengadaan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin.

“Bukan tidak dijalankan, kami masih menunggu masyarakat petani yang membutuhkan. Peralatannya masih lengkap. Kami bingung soal BBM, masa saya sendiri yang harus membeli bahan bakarnya. Dasar masyarakat maunya gratis saja,” ujar U.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya persoalan terkait mekanisme operasional dan pembiayaan bahan bakar yang perlu mendapat kejelasan agar fasilitas perpompaan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Para petani berharap pihak terkait, termasuk instansi pemerintah yang membidangi program tersebut, dapat turun langsung melakukan pengecekan terhadap kondisi fasilitas, mekanisme pengelolaan, serta memastikan program irigasi perpompaan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat penerima.

Warga juga berharap adanya transparansi mengenai pengelolaan program, terutama terkait penggunaan fasilitas, biaya operasional, serta siapa yang bertanggung jawab terhadap pengadaan bahan bakar dan pemeliharaan peralatan.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai kondisi program irigasi perpompaan tersebut.

Warga berharap persoalan ini segera mendapat perhatian agar fasilitas yang telah disediakan melalui program pemerintah tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke persawahan dan membantu meningkatkan produktivitas para petani.
Rep juhri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *