Musyawarah BUMDes Pringwulung Bahas Tata Kelola Ternak Bebek Petelur

Global Rise TV (Serang) — Pemerintah Desa Pringwulung, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, menggelar Musyawarah Desa (Musdes) terkait tata kelola usaha ternak bebek petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Buana Sejahtera. Kegiatan ini membahas evaluasi pengelolaan, hasil produksi telur, serta rencana pengembangan usaha peternakan sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa. Rabu, (23/9/26).
Musdes dihadiri Kepala Desa Pringwulung Sana beserta jajaran perangkat desa, Camat Bandung H. Safrudin beserta rombongan, Ketua BUMDes Mitra Buana Sejahtera Syaeful, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), LPM, Karang Taruna, PKK, kader Posyandu, RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tamu undangan lainnya.



Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan berita acara Musyawarah Desa oleh Ketua BPD Pringwulung, Bambang, kepada Kepala Desa Pringwulung, Sana. Penyerahan ini menjadi bagian dari dokumentasi dan tindak lanjut atas hasil pembahasan bersama mengenai pengelolaan usaha ternak bebek petelur.
Ketua BUMDes Mitra Buana Sejahtera, Syaeful, menjelaskan bahwa usaha ternak bebek petelur tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut mencapai Rp89.029.000.
“Anggaran ketahanan pangan tersebut kami gunakan untuk usaha ternak bebek petelur. Awalnya kami membeli sebanyak 200 ekor bebek petelur,” ujar Syaeful.
Ia menjelaskan, dalam perkembangannya terjadi kematian sekitar 12 ekor bebek. Meski demikian, usaha tersebut tetap berjalan dan mulai menghasilkan pendapatan dari penjualan telur. Produksi telur mengalami peningkatan secara bertahap dari April hingga Agustus.
Pada April, pendapatan dari penjualan telur tercatat sekitar Rp550.000. Kemudian meningkat menjadi sekitar Rp912.000 pada Mei, Rp1.128.000 pada Juni, Rp1.682.000 pada Juli, dan mencapai sekitar Rp2.340.000 pada Agustus. Sementara untuk September, hasil produksi masih dalam proses penghitungan karena bulan berjalan belum selesai.
Syaeful menambahkan, hasil produksi telur tersebut kemudian diperhitungkan dengan biaya pakan dan kebutuhan operasional lainnya. Dari hasil evaluasi, pengurus BUMDes menilai perlu dilakukan langkah perbaikan terhadap kualitas bebek petelur agar produktivitas usaha dapat lebih optimal.
“Dari pendapatan telur dengan pembelian pakan, selisihnya masih cukup kecil. Karena itu kami kembalikan kepada forum desa untuk mencari solusi bersama,” jelasnya.
Dalam musyawarah tersebut disepakati adanya rencana penggantian sebagian bebek petelur yang dinilai kurang produktif dengan bibit bebek petelur yang memiliki kualitas lebih baik. Bebek yang ada akan dijual terlebih dahulu dengan mengupayakan harga terbaik, kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli bebek petelur unggul.
“Sementara harga yang kami perkirakan sekitar Rp55.000 per ekor. Nanti hasil penjualan tersebut akan kami gunakan kembali untuk membeli bebek petelur yang lebih unggul,” kata Syaeful.
Melalui Musyawarah Desa ini, Pemerintah Desa Pringwulung bersama BUMDes dan seluruh unsur masyarakat diharapkan dapat memperkuat tata kelola usaha peternakan, meningkatkan produktivitas, serta memastikan program ketahanan pangan desa dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan penyepakatan tindak lanjut pengelolaan ternak bebek petelur berdasarkan hasil musyawarah bersama dan berita acara yang telah diserahkan kepada Pemerintah Desa Pringwulung.
(A,Oman)
