“LUKA SENYAP” DI BALIK ANGKA HIV BANGKA BELITUNG: PERGAULAN REMAJA JADI ALARM SOSIAL

Global Rise TV (BANGKA BELITUNG)— JUMAT, 14 AGUSTUS 2026.
Di balik keindahan Pulau Timah, tersimpan persoalan sosial yang perlahan meminta perhatian. Tren kasus HIV di Bangka Belitung dinilai bukan semata persoalan kesehatan, tetapi juga menjadi alarm tentang perubahan pola pergaulan, lemahnya kontrol sosial, tantangan ruang digital, serta pentingnya perlindungan terhadap anak dan remaja.
Dr. Sonia Awalokita, M.A., Dosen Kriminologi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, menilai angka-angka tersebut harus dibaca lebih dalam, bukan sekadar sebagai statistik tahunan.
Menurutnya, persoalan HIV membutuhkan pendekatan lintas sektor yang melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, lembaga keagamaan, tenaga kesehatan, masyarakat, serta aparat penegak hukum.
Berdasarkan data yang dicantumkan dalam kajiannya, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat 284 kasus HIV sepanjang 2025, meningkat dari 282 kasus pada 2024. Pangkalpinang disebut mencatat 133 kasus pada 2025, naik dari 121 kasus pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, Bangka Tengah disebut mengalami peningkatan dari 20 menjadi 25 kasus pada tiga bulan pertama 2026.
Dr. Sonia menegaskan, setiap angka memiliki cerita manusia di belakangnya.
Ia menyoroti munculnya kasus HIV pada kelompok usia sekolah yang disebut dalam informasi Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang.
Menurutnya, ketika seorang anak masuk dalam situasi berisiko, masyarakat tidak boleh berhenti pada pertanyaan mengenai perilaku anak. Sistem perlindungan keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan negara juga harus dievaluasi.
“Anak yang berada dalam situasi rentan membutuhkan perlindungan, bukan stigma,” menjadi salah satu pesan utama dalam kajiannya.
Dr. Sonia juga menilai perubahan pola pergaulan remaja tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ruang digital. Media sosial telah membuat lingkungan pergaulan anak semakin luas, sementara pengawasan orang tua dan sekolah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, menurutnya, keluarga harus kembali menjadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara dan mencari pertolongan.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan keagamaan yang kuat perlu diterjemahkan ke dalam pendampingan nyata bagi generasi muda.
“Rumah ibadah boleh ramai, tetapi anak-anak juga membutuhkan ruang untuk didengar.”
Bagi Dr. Sonia, pencegahan HIV tidak cukup dilakukan melalui pendekatan medis atau tindakan represif setelah persoalan terjadi.
Yang diperlukan adalah pendidikan berbasis fakta, komunikasi keluarga, perlindungan anak, literasi digital, pendampingan remaja, layanan kesehatan yang mudah diakses, serta penegakan hukum apabila ditemukan unsur eksploitasi atau kekerasan seksual terhadap anak.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan HIV sebagai alasan untuk menghakimi kelompok tertentu.
“Stigma tidak menyelesaikan HIV. Stigma justru dapat membuat persoalan semakin tersembunyi.”
Karena itu, angka HIV di Bangka Belitung semestinya menjadi alarm bersama.
Bukan alarm untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan alarm untuk bertindak.
Sebab di balik setiap angka terdapat manusia, keluarga, dan masa depan yang masih dapat diselamatkan.
Pulau Timah memiliki kekayaan alam yang besar. Namun kekayaan terbesar Bangka Belitung adalah generasi mudanya. Jangan biarkan mereka menghadapi dunia yang semakin terbuka tanpa perlindungan, pendidikan, dan pendampingan yang memadai.
Dr. Sonia Awalokita, M.A.
Dosen Kriminologi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
GWI-DPP-PUSAT
